Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

Pemikiran Herbert Spencer Tentang Evolusi Sosial Najip Hendra SP


November 18, 2011 by ahmadnajip
Najip Hendra SP
Herbert Spencer
Teori Evolusi boleh dibilang melekat pada sosok Charles Darwin. Bukunya Origin of Species dianggap sebagai peletak dasar teori evolusi dalam ilmu pengetahuan. Lalu, di manakah posisi Herbert Spencer? Faktanya, Spencer lebih awal memunculkan gagasan teori evolusi ketimbang Darwin. Spencer mengenalkan konsep evolusi sosial dalam bukunya Social Statics pada 1850, sembilan tahun sebelum Darwin menulis Origin of Species (1859). Spencer (1897) menguraikan teori evolusi secara mendalam dalam The Principles of Sociology yang terbit 1897 di New York. Dalam buku ini Spencer menyebut kata “evolusi” dalam beragam variannya sebanyak 249 kali, termasuk kutipan langsung dan daftar isi.
A.    Sekilas tentang Herbert Spencer
Spencer lahir sebagai anak tunggal seorang guru sekolah di kota kecil Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada 8 Desember 1903. Dia sebenarnya tidak terlahir tunggal, melainkan sembilan bersaudara. Cuma saja, dia menjadi satu-satunya anak pasangan William dan Haerriet Spencer yang bertahan hidup.  Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia tidak belajar seni dan humaniora, melainkan teknik dan bidang utilitarian (Ritzer dan Goodman, 2007).
Potret keluarga Spencer yang bergelut melawan penyakit menjadi semacam mozaik dari kehidupan Inggris zaman Victorian abad ke-19. Inggris yang memasuki Revolusi Industri terperosok ke dalam problem negara industri yang sangat suram sekaligus mengkhawatirkan. Kala itu, bangunan pabrik biasanya menyatu dengan kawasan pemukiman. Bangunannya tua dan tidak terawat, ventilasi minim, kotor, penuh jelaga hitam, sempit, dan sumpek. Selain mengepung kota dengan asap hitam, limbah pabrik juga menimbulkan pencemaran, sanitasi yang tidak terawat, jalanan yang buruk, dan tentu saja polusi.
Dalam usia relatif muda, 17 tahun, Spencer muda terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.
Spencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang memengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama tentang biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan judul On the Proper Sphere of Government pada 1842 dimuat di majalah Non Conformist. Enam tahun kemudian, 1848, tulisan yang sama dimuat The Economist, majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.
Tulisan Spencer mendapat sambutan hangat penggemarnya sehingga mereka rela membayar lebih dulu tulisan-tulisan Spencer sebelum tulisan itu diterbitkan. Kondisi inilah yang mendorong Spencer untuk berpikir alih profesi menjadi penulis ilmu pengetahuan bidang pengetahuan sosial, khususnya sosiologi. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, saat usianya menginjak 28 tahun dia pindah menjadi wakil editor majalah The Economist, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, seperti Thomas Huxley dan George Eliot.
Saat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. Tiga tahun kemudian, pamannya (Thomas Spencer) meninggal dunia dan mewariskan harta cukup banyak kepada Spencer. Berbekal warisan itulah Spencer berani memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencurahkan seluruh kegiatannya untuk menulis. Keberhasilan Spencer menulis banyak buku karena selain gemar membaca, Spencer adalah kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat di manapun di dunia ini, seorang yang rajin mengumpulkan informasi, membuat sistematika atau klasifikasi data. Spencer memang sejak kecil mempunyai hasrat dan keinginan yang besar untuk menambah dan mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memahami keseluruhannya.
Spencer juga mengembangkan sistem filsafat dengan aspek-aspek utiliter dan evolusioner. Spencer membangun utiliterisme Jeremy Bentham yang memelopori aliran gerakan reformasi. Jeremy Bentham berpendapat bahwa logika ilmiah harus didasarkan pada pengetahuan yang cukup mengenai kondisi kehidupan sosial yang aktual. Konsep ini mendahului konsep-konsep Charles Darwin (Sukanto: 1982: 36).
Spencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of the fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Statics yang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk menggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan,  An Essay on the Principle of Population (1798). sinya  konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.
Sembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang berlangsung dalam waktu lama yang berawal  dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks (Horton dan Hunt, 1989:208).
B.     Karya-karya Herbert Spencer
The Principles of Sociology, salah satu karya utama Spencer.
Selama hidupnya, Spencer menghasilkan sejumlah karya besar. Sebagian besar pemikiran Spencer tentang sosiologi ditulis dalam 10 buku (dua jilid Biologi, dua jilid psikologi, tiga jilid Sosiologi, dan dua jilid tentang moralitas) yang kemudian dikemas menjadi Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Paket ini memuat seluruh teori evolusi universal, meliputi evolusi bilogi, psikologi, sosial, dan etika. Karya-karya tersebut mengukuhkan dirinya sebagai penganut filsafat sintesis, yakni ilmu filsafat yang menggabungkan beberapa ilmu pengetahuan menjadi satu (Soekanto, 1990).
Dari sederet karya tersebut, buku Principles of Sociology merupakan karya monumental Spencer yang mendorong perkembangan Sosiologi sebagai ilmu populer di masyarakat, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski begitu, Spencer kurang mendapat sambutan di negeri sendiri.
Berikut sejumlah karya utama Spencer semaca hidupnya:
  1. Social Statics (1850).
  2. Principles of Psychology (1855).
  3. Principles of Biology (1861 dan 1864).
  4. First Principles (1862).
  5. The Study of Sociology (1873).
  6. Descriptive Sociology (1874).
  7. The Principles of Sociology (1877).
  8. Principles of Ethics (1883).
  9. Esai-esai:
    -          Education (1861)
    -          The Study of Sociology (1873)
    -          The Nature and Reality of Religion (1885)
    -          Various and Fragments (1897)
    -          Facts and Comments (1902)
Bila dicermati, karya-karya Spencer senantiasa mendasarkan konsepsi bahwa seluruh alam, baik yang berwujud organis, nonorganis, maupun superorganis berevolusi karena dorongan kekuatan mutlak yang kemudian disebutnya sebagai evolusi universal (Koentjaraningrat, 1987:34). Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal umat manusia menunjukkan bahwa pada garis besarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari suatu bangsa di dunia sudah melalui tingkatan evolusi yang sama.
C.    Spencer tentang Sosiologi
Bagi Spencer, Sosiologi merupakan suatu studi evolusi dalam bentuk yang paling kompleks. Dia menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis dalam tiga jilidThe Prinsiples of Sociology. Menurutnya, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai hakikat manusia secara inkorporatif dengan pendekatan makro yang berpusat pada manusia. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari segala gejala yang muncul dari perilaku manusia secara bersama-sama.
Spencer dalam Soekanto (1990: 444-447), objek pokok sosiologi adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial, dan industri. Tambahannya antara lain asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Dia mengingatkan bahwa sosiologi juga harus menyoroti hubungan timbal balik antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat yang tetap dan harmonis, serta merupakan suatu integrasi, seperti pengaruh norma-norma tersebut di atas terhadap kehidupan keluarga serta hubungan antara lembaga politik dengan lembaga keagamaan. Oleh karena itu, Spencer berpendapat bahwa sosiologi adalah psikologi yang dipraktikkan dan mendapat wujud antara lain etika dan peradaban yang terdapat dalam masyarakat.
Haryanto (tt: 14) menyimpulkan, pandangan-pandangan Spencer tentang sosiologi mendapat pengaruh biologi dalam arti luas. Pertumbuhan suatu disiplin ilmu sosiologi dan biologi telah menarik perhatian baru terhadap faktor-faktor biologis di dalam perilaku manusia. Oleh para pendukungnya, sosiologi didefinisikan sebagai “suatu studi sistematik mengenai dasar-dasar biologis dari perilaku manusia”. Interaksi  biologi dan kebudayaan mempengaruhi perilaku manusia yang dimulai dengan perkembangan masyarakat manusia. Banyak ahli masyarakat abad pertengahan menganalogikan manusia dengan organisme.
Spencer menekankan pentingnya pendekatan bagi seluruh gejala yang ada serta meningkatkan pendekatan bagi pengkajian kehidupan sosial. Berbeda dengan anggapan masyarakat selama ini tentang semua gejala yang berhubungan dengan masalah kemasyarakatan yang selalu dihubungkan dengan metafisik dan agama, Spencer memperkenalkan pendekatan baru yaitu pendekatan empiris dengan data konkret yang memisahkan antara agama dan metafisik dengan ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan oleh siapa saja dan kapan saja dengan hasil yang sama. Spencer adalah orang yang pertama kali menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret.
Pendekatan empiris ala Spencer mendapat banyak tantangan pemuka agama. Menyadari hal itu, Spencer kemudian melakukan rekonsiliasi antara ilmu pengetahuan dengan agama. Rekonsiliasi ini dimuat dalam bukunya yang terbit kemudian, yaitu yang berjudul First Prinsciple. Di sana Spencer membedakan fenomena ke dalam dua kelompok, yaitu fenomena atau kejadian yang dapat diketahui dan fenomena atau kejadian yang tidak dapat diketahui. Fenomena dan hal-hal yang dapat diketahui dianggap merupakan pengalaman nyata dan mudah diterima oleh akal manusia, sedang fenomena yang tidak dapat diketahui adalah hal-hal dan kejadian di luar ilmu pengetahuan dan konsepsi manusia (Siahaan, 1986:119-133).
Spencer terus berusaha mencari sumber-sumber asli dan menganalisis perkembangan aneka ragam ide yang tersirat di dalamnya. Dia memulai dengan tiga garis besar teorinya yang disebut dengan tiga kebenaran universal, yakni: 1) Materi yang tidak dapat dirusak; 2) Kesinambungan gerak; dan 3) Tenaga dan kekuatan yang terus-menerus. Selain itu, Spencer menyebutkan adanya empat dalil dari kebenaran universal sebagaimana disebutkan di bawah ini:
  1. Kesatuan hukum dan kesinambungan antara kekuatan-kekuatan yang tidak pernah muncul dengan sia-sia dan abadi.
  2. Kekuatan ini tidak musnah akan tetapi ditransformasikan ke dalam bentuk persamaan yang lain.
  3. Segala sesuatu yang bergerak sepanjang garis setidak-tidaknya akan dirintangi oleh suatu kekuatan yang lain .
  4. Ada sesuatu irama dari gerakan atau gerakan alternatif.
Spencer lebih lanjut mengatakan, evolusi dalam bentuk yang sederhana hanyalah merupakan suatu gerak yang hilang dan redistribusi dari keadaan. Evolusi terjadi di mana-mana dalam bentuk inorganik seperti astronomi dan geologi, dan dalam kehidupan organik seperti biologi dan psikologi serta kehidupan superorganik seperti sosiologi. Sedang sistem evolusi umum yang pokok menurut Spencer (Siahaan, 1986:119-133) meliputi:
  1. Ketidakstabilan yang homogen. Setiap homogenitas akan semakin berubah dan membesar serta akan kehilangan homogenitasnya karena kejadian setiap insiden tidak sama besar;
  2. Berkembangnya faktor yang berbeda-beda dalam rasio geometris. Berkembangnya bentuk-bentuk yang sebenarnya hanya merupakan batas dari suatu keseimbangan saja, yaitu suatu keadaan seimbang yang berhadapan dengan kekuatan-kekuatan lain;
  3. Kecenderungan terhadap adanya bagian-bagian yang berbeda-beda dan terpilah-pilah melalui bentuk-bentuk pengelompokan atau segregasi.
  4. Adanya batas final dari semua proses evolusi di dalam suatu keseimbangan akhir.
Giddings (1890) meringkas ajaran sistem sosial Spencer seperti di bawah ini (Haryanto, tt).
  1. Masyarakat adalah organisme atau mereka adalah superorganis yang hidup berpencar-pencar.
  2. Antara masyarakat dan badan-badan yang ada di sekitarnya ada suatu keseimbangan tenaga, suatu kekuatan yang seimbang antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain, antara kelompok sosial satu dengan kelompok sosial yang lain.
  3. Keseimbangan antara masyarakat dengan masyarakat, antara masyarakat dan lingkungan mereka, berjuang satu sama lain demi eksistensi mereka di antara warga masyarakatnya. Akhirnya konflik menjadi suatu kegiatan masyarakat yang sudah lazim.
  4. Di dalam perjuangan ini kemudian timbulah rasa takut di dalam hidup bersama serta rasa takut untuk mati. Rasa takut mati adalah pangkal kontrol terhadap agama.
  5. Kebiasaan konflik kemudian diorganisir dan dipimpin oleh kontrol politik dari agama menjadi militerisme. Militerisme pada umumnya membentuk sifat dan tingkah laku serta membentuk organisasi sosial dalam peperangan.
  6. Militerisme menggabungkan kelompok-kelompok sosial yang kecil menjadi kelompok sosial yang lebih besar dan kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial. Proses semacam ini memperluas medan integrasi sosial yang biasanya terdapat pemupukan rasa perdamaian antar sesamanya serta rasa kegotongroyongan.
  7. Kebiasaan  berdamai dan rasa kegotongroyongan membentuk sifat, tingkah laku serta organisasi sosial yang suka pada hidup tenteram dan penuh dengan rasa setia kawan.
  8. Dalam tipe masyarakat yang penuh dengan perdamaian, kekuatannya akan berkurang namun rasa spontanitas serta inisiatif semakin bertambah. Organisasi sosial menjadi semacam bungkus, sedang anggota masyarakat dapat dengan leluasa pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka mengubah hubungan sosial mereka tanpa merusak kohesi sosial yang telah ada. Kesemuanya ini merupakan elemen di mana rasa simpati dan seluruh pengetahuan yang ada di dalam kelompok sosial merupakan kekuatan tersendiri bagi masyarakat primitif.
  9. Perubahan dari semangat militerisme menjadi semangat industrialisme. Semangat kerja keras tergantung pada luasnya tenaga antara kelompok masyarakat yang ada serta kelompok masyarakat tetangganya, antara ras dalam suatu masyarakat yang ada serta masyarakat yang lain, antara masyarakat pada umumnya serta lingkungan fisis yang ada. Akhirnya semangat kerja keras yang disertai dengan penuh rasa perdamaian tak dapat dicapai sampai keseimbangan bangsa-bangsa serta ras-ras yang ada tercapai lebih dahulu.
  10. Di dalam masyarakat, seperti pada kelompok masyarakat lain tertentu, luasnya perbedaan serta jumlah kompleksitas segenap proses evolusi tergantung pada nilai proses integrasi. Semakin lambat nilai integrasinya, semakin lengkap dan memuaskan jalan evolusi itu.     .
D.    Spencer tentang Teori Evolusi
Soekanto (1990:484-485) mendefinisikan evolusi sebagai serentetan perubahan kecil secara pelan-pelan dan kumulatif yang terjadi dengan sendirinya dan memerlukan waktu lama. Evolusi dalam masyarakat adalah serentetan perubahan yang  terjadi karena usaha-usaha masyarakat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Perubahan ini tidak harus sejalan dengan rentetan  peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.
Menurut Soekanto (1990:345-347), teori tentang evolusi dapat dikategorikan dalam  tiga kategori.
  1. Unilinear theories of evolution. Teori ini berpendapat bahwa manusia  dan masyarakat (termasuk kebudayaannya) mengalami perkembangan melalui tahapan tertentu, mulai dari bentuk sederhana menuju ke yang lebih kompleks (madya dan modern) dan akhirnya menjadi sempurna (industrial, sekuler). Pelopor teori ini antara lain adalah August Comte dan  Herbert Spencer. Variasi teori ini adalahCyclical theories yang dipelopori oleh Vilfredo Pareto dengan mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan mempunyai tahap-tahap perkembangan yang merupakan lingkaran yang pada tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang. Pendukung teori ini adalah Pitirim A. Sorokin yang mengemukakan teori dinamika sosial dan kebudayaan. Menurut Sorokin, masyarakat berkembang melalui tahap kepercayaan, tahap kedua dasarnya adalah indera manusia, dan tahap terakhir dasarnya adalah kebenaran.
  2. Universal theory of evolution. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap perkembangan tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Spencer mengemukakan prinsip-prinsipnya yaitu antara lain mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan sifat maupun  susunannya dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen.
  3. Multilined theories of evolution. Teori ini lebih menekankan pada penelitian-penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang pengaruh sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian kekeluargaan dalam masyarakat.
Sementara itu, perspektif evolusioner adalah sudut pandang teoretis paling awal dalam sosiologi.  Hal tersebut berdasarkan pada karya August Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1903). Keduanya menaruh perhatian pada perkembangan masyarakat secara evolusioner dari keseluruhan atau kesatuan yang utuh. Horton dan Hunt (1989:16-17) menjelaskan, perspektif evolusioner adalah perspektif yang aktif, sekali pun bukan merupakan perspektif utama dalam sosiologi.
Dalam bukunya, Positive Philosophy (1851-1854), Comte menulis tentang tiga tingkatan yang pasti dilalui pemikiran manusia yaitu: teologis, metafisik (atau filosofis), dan akhirnya positif (atau ilmiah). Comte berpendapat bahwa masyarakat mempunyai kedudukan yang dominan terhadap pribadi.
Sebaliknya, Spencer berpendapat bahwa pribadi mempunyai kedudukan dominan dalam struktur masyarakat. Dia menekankan bahwa pribadi merupakan dasar struktur sosial, meskipun masyarakat dapat dianalisis pada tingkat struktural. Struktur sosial suatu masyarakat dibangun untuk memungkinkan anggotanya memenuhi berbagai keperluan.  Oleh karena itu, banyak ahli memandang Spencer bersifat individualistis. Terkait ketertarikannya pada perkembangan evolusi jangka panjang dari masyarakat modern, Spencer menilai  masyarakat bersifat organis. Pandangan ini yang kemudian menjadikan Spencer sering disebut sebagai seorang teoretis organik karena usahanya memperluas prinsip-prinsip evolusi pada ilmu biologi ke institusi sosial.
Lebih jauh Spencer mengungkapkan bahwa perubahan alamiah dalam diri manusia mempengaruhi struktur masyarakat. Kumpulan pribadi dalam masyarakat merupakan faktor penentu bagi terjadinya proses kemasyarakatan yang pada hakikatnya merupakan struktur sosial dalam menentukan kualifikasi. Bagi Spencer, masyarakat  merupakan material yang tunduk pada hukum universal evolusi. Masyarakat mempunyai hubungan fisik dengan lingkungan yang mengakomodasi dalam bentuk tertentu dalam masyarakat, terutama dalam organisasinya. Masyarakat tersusun atas dasar hakikat manusia dan bentuknya sangat dipengaruhi oleh alam yang sulit dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan oleh manusia sangat sulit ditentukan akibatnya (Haryanto, tt:24).
Diakui atau tidak, Spencer terpikat Darwinisme sosial populer setelah Charles Darwin menerbitkan buku Origin of Species (1859), sembilan tahun setelah Spencer memperkenalkan teori evolusi universalnya. Spencer memandang evolusi sosial sebagai serangkaian tingkatan yang harus dilalui semua masyarakat yang bergerak dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih rumit dan dari tingkat homogen ke tingkat heterogen. Horton dan Hunt (1989:59-61) menilai adanya suatu optimisme di masyarakat. Kemajuan masyarakat yang terus meningkat pesat pasti akan mengakhiri kesengsaraan dan meningkatkan kebahagiaan manusia.
Menurut Haryanto (tt:25), semua teori evolusioner menilai bahwa perubahan sosial memiliki arah tetap yang dilalui semua masyarakat. Perubahan sosial ditentukan dari dalam (endogen) yang sering digambarkan dalam arti diferensiasi struktural, perubahan dalam arti dari yang paling sederhana menuju masyarakat yang lebih kompleks. Masyarakat sederhana tidak terpadu yang tidak pasti (indefinite, incoherent homogenity), memiliki karakteristik, tidak ada pembagian tugas atau peran yang rinci dan lebih banyak bersifat informal. Sedang masyarakat yang lebih kompleks (definite, coherent heterogenity) memiliki karakteristik terspesialisasi dan formal.
Evolusi terjadi pada tingkat organis dan pada tingkat anorganis. Pada tingkat organis, perubahan terjadi dari sel homogen sederhana menuju organisme terpadu yang lebih tinggi dan kompleks. Evolusi anorganis prosesnya adalah proses yang bermula dari bulatan gas yang tidak menentu, tidak terpadu dan homogen, kemudian menggumpal menjadi bintang, planet, matahari, bulan yang berbeda yang kemudian diintegrasikan menjadi satu keseluruhan dalam gerakan yang mengikuti hukum-hukum tertentu. Selain evolusi organis dan anorganis, ada evolusi yang disebut evolusi superorganis. Evolusi superorganis ini hanya terjadi pada masyarakat. Evolusi superorganis di kemudian hari lebih dikenal sebagai evolusi sosial dan evolusi produksi yang sekarang kita kenal sebagai evolusi kebudayaan.
Seperti halnya sel pada organisme yang mempunyai cara dan sifat masing-masing, Spencer menilai watak dan sifat manusia itulah yang membawa perbaikan bagi masyarakat. Watak yang baik mudah menjadi teladan mengalami kemajuan karena rintangan yang muncul dapat terkikis dengan sendirinya pada saat terjadi proses menyelaraskan diri dengan masyarakat dan kemajuan. Hal ini juga berarti perjuangan hidup (struggle for life) dapat diatasi sehingga terbentuk masyarakat terbaik. Perjuangan hidup dan survival of the fittest adalah suatu wujud tenaga evolusi dalam masyarakat. Hal ini membuat manusia dalam masyarakatnya selaras dengan kehidupan politik, industri, dan sebagainya di sekitarnya. Di sini Spencer melihat kehidupan dalam masyarakat selalu mendorong anggotanya bersikap menyesuaikan diri dengan panggilan hidup yang lebih maju.
Peraturan negara harus menjaga agar supaya rakyat dan masyarakat dapat hidup merdeka dan memperjuangkan hidupnya. Spencer tidak setuju dengan peraturan yang melindungi pihak yang lemah, yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap kemajuan masyarakat. Spencer berpendapat bahwa pihak yang lemah hendaknya binasa saja atau harus berusaha belajar keterampilan dan keuletan sehingga nantinya yang akan tinggal hanya mereka yang terkuat (the fittest).
Spencer berpendapat bahwa orang-orang cakap dan bergairah (enerjik) yang akan mampu memenangkan perjuangan hidup dan berhasil, sedang orang yang malas dan lemah akan tersisih dengan sendirinya dan kurang berhasil dalam hidup. Kelangsungan hidup keturunan manusia lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan tenaga hidupnya. Kekuatan hidupnyalah yang mampu mengatasi kesukaran ujian hidup, termasuk kemampuannya menyesuaikan diri (berevolusi) dengan lingkungan fisik dan sosial yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
Spencer berpendapat, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi antara bagian-bagiannya. Hal ini berarti ada organisme yang mempunyai fungsi yang lebih matang di antara bagian-bagian lain dari organisme sehingga dapat berintegrasi dengan lebih sempurna. Secara evolusioner, tahap organisme tersebut akan semakin sempurna sifatnya. Dengan demikian organisme mempunyai kriteria yang dapat diterapkan pada setiap masyarakat yaitu kompleksitas, diferensiasi, dan integrasi. Evolusi sosial dan perkembangan sosial pada dasarnya adalah pertambahan diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari keadaan homogen ke keadaan heterogen (Soekanto, 1990: 39-41).
Dalam bukunya Principles of Sociology, Spencer berpendapat bahwa pada masyarakat industri yang telah terjadi diferensiasi dengan mantap, akan ada  stabilitas yang menuju pada keadaan hidup yang damai. Seperti juga Comte, Spencer berpendapat bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah menyesuaikan diri dengan panggilan hidup dalam masyarakat sekitarnya yang selalu berevolusi menuju perbaikan dan kemajuan.
Pusat perhatian Spencer juga tertuju pada gerak yang dipandang sebagai suatu tenaga yang menggerakkan proses pemisahan (diferensiasi, membedabedakan) dan proses mengikat (integrasi, persatuan). Tenaga ini membawa kesamaan dan perpecahan dan ketidakpastian dalam evolusi sehingga membentuk kelompok, golongan, ras, suku bangsa, bangsa, dan negara. Evolusi terus berlanjut, ada yang menuju kesempurnaan, tetapi ada juga yang sebaliknya. Evolusi pada sosiologi mempunyai arti optimis yaitu tumbuh menuju keadaan yang sempurna, kemajuan, perbaikan, kemudahan untuk perbaikan hidupnya.
Seperti telah disinggung di atas, pandangan-pandangan sosiologi Spencer sangat dipengaruhi pesatnya kemajuan ilmu biologi. Beberapa di antaranya adalah:
  1. Pelajaran tentang sifat keturunan (descension), Lamarck (1909) yang  menyatakan bahwa sifat manusia yang diturunkan kepada anak cucunya sangat dipengaruhi oleh tempat tinggal dan  sifat bangsa itu. Teori evolusi ini berdasarkan pendapat bahwa hewan yang bertulang punggung bisa menyempurnakan bentuk badannya berdasarkan kebutuhannya kepada keturunannya.
  2. Teori seleksi dari Darwin (1859) mengatakan bahwa alam akan membuang segala sesuatu yang tidak terpakai dan memperkuat segala sesuatu yang berguna, seperti yang terjadi pada binatang, yang kuat akan mampu bertahan hidup dan yang lemah akan binasa.
  3. Teori tentang penemuan sel. Tubuh hewan dan tumbuh-tumbuhan terdiri dari organisme kecil-kecil yang disebut sel. Sel ini mempunyai sifat dan bentuk yang sama, tetapi mampu mempengaruhi sifat binatang atau tumbuhan berdasarkan ciri yang terkuat pada sel tersebut.
Teori-teori Spencer sangat dipengaruhi oleh pelajaran tentang sifat keturunan Lamarck yang menyamakan masyarakat dengan suatu organisme, dengan sel-selnya, dan selanjutnya ia membandingkannya seperti itu. Pendapat tentang biologi mempengaruhi dunia filsafat, psikologi dan lain sebagainya sehingga terjalin pertalian yang erat antara ilmu pengetahuan itu dengan sosiologi.
Membandingkan masyarakat dengan organisme, Spencer mengelaborasi ide besarnya secara detail pada semua masyarakat sebelum dan sesudahnya. Spencer menitikberatkan pada tiga kecenderungan perkembangan masyarakat dan organisme, yaitu: 1) Pertumbuhan dalam ukurannya;  2) Meningkatnya kompleksitas struktur; 3) Diferensiasi fungsi.
Spencer berkeyakinan bahwa kehidupan masyarakat tumbuh secara progresif menuju keadaan yang semakin baik. Karena itu, kehidupan masyarakat harus dibiarkan berkembang sendiri, lepas dari campur tangan yang mungkin akan memperburuk keadaan. Spencer menerima pandangan bahwa institusi sosial sebagaimana tumbuh-tumbuhan dan binatang, mampu beradaptasi secara progresif dan positif terhadap lingkungan sosialnya. Ia juga menerima sudut pandang Darwinian bahwa proses seleksi alamiah, “survival of the fittest”, juga terjadi dalam kehidupan sosial (istilahsurvival of the fittest justru diciptakan oleh Spencer beberapa tahun sebelum karya Darwin mengenai seleksi alam muncul). Jika tidak diganggu intervensi dari luar, individu yang layak akan bertahan hidup dan berkembang, sedangkan individu yang tak layak akhirnya punah. Spencer memusatkan perhatian pada individu, sedangkan Comte menekankan pada unsur yang lebih besar seperti keluarga.
Ritzer dan Goodman (2007) merangkum teori evolusi Spencer ke dalam dua perspektif. Pertama, teorinya berkaitan dengan peningkatan ukuran (size)masyarakat. Peningkatan ini menyebabkan diferensiasi fungsi yang dilakukannya. Kedua, masyarakat berubah melalui penggabungan. Makin lama makin menyatukan kelompok-kelompok yang berdampingan. Dia berbicara tentang gerak evolusioner dari masyarakat yang sederhana ke penggabungan dua kali lipat dan penggabungan tiga kali lipat.
Di bagian lain, Spencer menawarkan teori evolusi dari masyarakat militan ke masyarakat industri. Pada mulanya, masyarakat militan dijelaskan sebagai masyarakat terstruktur guna melakukan perang, baik yang bersifat defensif maupun ofensif. Sejalan dengan tumbuhnya masyarakat industri, fungsi perang sebagai perubahan berakhir. Masyarakat industri didasarkan pada persahabatan, tidak egois, dan penghargaan terhadap prestasi.
Dalam  tulisannya mengenai etika dan politik, Spencer mengemukakan gagasan evolusi sosial yang lain. Di satu sisi ia memandang masyarakat berkembang menuju ke keadaan moral yang ideal atau sempurna. DI sisi lain ia menyatakan bahwa masyarakat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannyalah yang akan bertahan hidup (survive), sedangkan masyarakat yang tak mampu menyesuaikan diri terpaksa menemui ajalnya. Hasil proses ini adalah peningkatan kemampuan menyesuaikan diri masyarakat secara keseluruhan.
Jadi, Spencer mengemukakan seperangkat gagasan yang kaya dan ruwet. Mula-mula gagasannya menikmati sukses besar, tetapi kemudian ditolak selama beberapa tahun, dan baru belakangan ini hidup kembali dengan munculnya teori sosiologi neoevolusi.(*)
Rujukan
Haryanto. (tt). Herbert Spencer (Modul Pembelajaran Universitas Terbuka). Jakarta: Universitas Terbuka.
Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L.1989. Sosiologi, Jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI-Press.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2007. Teori Sosiologi Modern (Edisi VI). Jakarta: Kencana.
Siahaan, Hotman M. (1986). Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Spencer, Herbert. 1897. The Principles of Sociology Vol. 1 (Edisi III). New Yrok: A. Appleton and Company.
Sukanto, Soerjono. (1982). Teori Sosiologi tentang Pribadi dan Masyarakat. Jakarta: Ghalia Indonesia.
———–. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Mengenal Pemikiran Herbert Spencer (URL http://ipahipeh.blog.fisip.uns.ac.id/2011/06/04/mengenal-pemikiran-herbert-spencer/) diakses pada Rabu, 19 Oktober 2011.
*Sebelum diunggah, artikel ini merupakan salah tugas mata kuliah Teori Ilmu-ilmu Sosial pada Program Magister Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Teori Sosiologi Klasik


Teori Sosiologi Klasik   


Teori Sosiologi Klasik
(William Garaham Sumner, Pitirim Sorokin, Herbert Spencer)
Dosen Pengampu: Drs. Th. A. Gutama, M.Si
Disusun oleh:
Nama         : Magenta Romadhani Rosmaya
Jurusan      : Sosiologi 2011
NIM           : D0311042
PROGRAM STUDI S1 SOSIOOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
A. William Graham Sumner
1. Teori William Graham Sumner
a. Masyarakat adalah Kerja Sama Antagonis
Dalam teori ini Sumner mengatakan bahwa dalam sosiologi bukan hanya pikiran manusia yang dimasyarakatkan melainkan kelakuan lahiriahnyapun begitu. Dalam teorinya ini, dia mengambil konsep “manusia” sebagai badan dan jiwa atau pikiran yang berbadan. Dalam hal ini manusia diartikan sebagai badan yang memiliki nafsu yang pada akhirnya menjadikannya egois karena lebih mementingkan kebutuhannya sendiri dibandingkan orang lain. Namun, kehidupan sosial membuat manusia itu mulai mengontrol dan mengolah keegoisannya.
Tiap manusia memiliki lapisan bawah sadar yang terdiri dari naluri dan dorongan biologis yang berbeda-beda.  Hal inipun yang membuat manusia memiliki pemikiran yang berbeda. Bahkan sering terjadi konflik dari perbedaan ini. Beda pemikiran menimbukan masalah bagi individu dalam bagaimana cara hidup dengan suatu masyarakat. Dalam kehidupan akan tercipta pemasyarakatan yang timbul dari kebiasaan yang dibentuk bersama. Karena kebiasaan yang mengatur itu merupakan bentukan dari kesepakatan masyarakat itu, maka individu akan berusaha untuk mematuhi dan mengikuti kebiasaan yang telah disepakati tersebut. Dengan hal ini manusia memenuhi hastarnya untuk hidup tentram, damai, terhindar dari kesusahan, dan menjauhi siksaan dalam masyarakat. Oleh karena itu dalam bermasyarakat, individu mencoba untuk mematuhi aturan agar dirinya tidak terlibat permasalahan.
Dalam bermasyarakat, individu melakukan proses penyesuaian diri yang akhirnya dari kebiasaan akan muncul pola perilaku dalam masyarakat. Pola tersebut merupakan suatu gabungan dari egoisme dan alturuisme yang telah mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat yang ada dalam wilayahnya. Ini berguna untuk meredam konflik. Dalam kesepakatan ini akan terbentuk suatu hukum yang mengikat di mana pelanggarnya akan terkena sanksi.
Karena manusia bersifat dinamis, maka kesepakatan yang tercipta sebagai hukum tadi dapat berubah-ubah. Maksudnya adalah manusia mengoreksi hukum yang telah mereka sepakati. Jika sekiranya seiring berkembangnya manusia ternyata hukum itu sudah tidak dapat digunakan atau harus mendapat penambahan, masyarakat dapat mengubahnya lagi dengan kesepakatan bersama. Namun sesudah terjadinya perubahan, hukum itu akan diberlakukan lagi dalam masyarakat.
Menurut Sumner manusia bekerja dengan pihak yang bertentangan atau yang sering disebut antagonistic cooperation dikarenakan mereka memiliki kepentingan masing-masing. Mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan untuk bertahan hidup walaupun kerjasamanya tetap merupakan kerjasama antagonis.
Contohnya adalah berabad-abad yang lalu di Barat terjadi pertentangan antara kaum modal dan pekerja. Kaum modal bersikeras untuk memberikan upah rendah ke buruh agar tidak mengalami kerugian. Sedangkan kaum buruh tetap menuntut upah yang layak baginya. Konflik ini membuat terjadinya kerusakan dan kerugian yang besar karena banyak alat produksi di rusak. Namun lama kelamaan mereka lelah dan akhirnya melakukan perundingan. Setelah terjadi kesepakatan, pihak pemberi modal dan buruh kembali lagi bekerja sama walau bentuk kerjasamannya merupakan kerja sama antagonis. Mengapa mereka tetap bekerja sama? Ya karena mereka memiliki kepentingan masing-masing. Kaum pemilik modal membutuhkan buruh untuk mengurusi produksi, sedangkan kaum buruh memerlukan pekerjaan untuk menghasilkan uang yang pada akhirnya digunakan untuk bertahan hidup. Namun dalam hal ini mereka tetap terikat dalam peraturan yang telah disepakati. Jadi bagi pelanggarnya akan tetap dikenai sanksi.
b. Kelompok Dalam (In Group) dan Kelompok Luar (Out Group)
In group biasa disebut dengan we group atau kelompok dalam merupakan kelompok di mana individunya sangat membanggakan kelompoknya sendiri. Dia merasa bangga dan merasa folkways mereka yang paling sempurna. Kelompok dalam selalu menganggap orang atau kelompok luar itu buruk. Sehingga out group atau yang sering disebut dengan they group merupakan kelompok yang tertindas.
Kelompok dalam membuat munculnya ethnosentrisme di mana setiap individunya hanya bangga dengan kelompoknya sendiri. Bahkan parahnya, mereka menganggap kelompok luar sebagai musuh. Sehingga sering terjadi perselisihan. Bagi kelompok dalam, berseteru dengan kelompok luar adalah hal yang baik. Mengapa demikian? Karena bagi mereka menyerang musuh akan menambah kesolidan dalam kelompoknya. Dengan adanya penyerangan, kelompok dalam akan saling berkorban untuk melindungi kelompoknya satu sama lain yang akan menumbuhkan persaudaraan yang erat di dalam.
2. Kritik dan Relevansi dengan Kehidupan Sekarang
a. Masyarakat adalah Kerja Sama Antagonis
Kritik untuk teori ini mungkin tidak banyak. Karena menurut saya memang itulah naluri yang dimiliki manusia dari Tuhan Sang Pencipta bahwa manusia adalah makhluk yang egios dan mengutamakan kepentingan sendiri. Namun perlu diingat juga bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memiliki naluri untuk berkumpul dengan manusia yang lain. Jika kita memahami teori ini, yang bisa saya tangkap Sumner menekankan bahwa kerjasama atau kebersamaan yang terjadi dalam masyarakat hanya karena kepentingan masing-masing dan tidak menyertakan hati di situ. Jadi setelah kebutuhan itu terpenuhi, individu akan lepas dari situ.
Menurut saya, bagaimanapun manusia memiliki naluri untuk bersama. Memiliki jiwa sosial yang tidak memerlukan balasan apapun dalam hal tertentu. Tidak semua yang dilakukan individu semata-mata egoisme untuk memenuhi kepentingan pribadinya.
Relefansi teori kerjasama antagonis ini dalam kehidupan sekarang menurut saya masih terjadi. Seperti contoh yang dipaparkan di atas di mana kaum buruh dan pemilik modal yang berseteru dan pada akhirnya mereka tetap melakukan kerjasama untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Pada kenyataannya di Indonesia pun itu masih berjalan. Di mana kaum buruh dan pemilik modal terikat juga dengan undang-undang yang berlaku dalam melakukan kerjasama ini. Selain itu kenyataan lain yang terjadi adalah tugas kelompok yang ternyata di dalam kelompok tersebut ada dua orang yang sedang bertikai atau tidak akur. Namanya tugas kelompok pasti harus dilakukan bersama. Demi memenuhi tugas dosen dan demi nilai, mereka berunding dan memenuhi kesepakatan sehingga tugas dapat dilakukan dengan baik. Mungkin itu merupakan contoh sederhana. Namun menurut saya, teori milik Sumner tentang kerjasama antagonis memang masih terasa hingga saat ini di Indonesia walau mungkin dalam kenyataan penegakan hukumnya masih kurang.
b. Kelompok Dalam (In Group) dan Kelompok Luar (Out Group)
Untuk teori yang ini, bagi saya ada sedikit kritikan. Karena memang pada dasarnya manusia lebih membanggakan kelompoknya sendiri daripada kelompok lain. Namun bukan berarti itu menjadi alasan untuk menjadikan sebuah pertengkaran itu baik. Bagi saya, toleransi dan saling menghargai dari tiap-tiap kelompok itu perlu. Perbedaan itu pasti ada. Dan perbedaan itu wajar-wajar saja. Dalam kehidupan pasti aka nada banyak kelompok-kelompok. Jika mereka tidak saling mengalah dan memahami, yang ada hanyalah pertikaian yang terjadi setiap hari.
Relefansi dengan keadaan yang ada saat ini bagi saya kurang tepat. Karena menurut saya, saat ini manusia sudah berkembang semakin pesat. Mereka mulai mengenal menghargai dan memahami. Di Indonesia saat ini sangat banyak kelompok-kelompok. Misalnya saja kelompok musik pop dengan kelompok musik dangdut. Walau mereka saling membanggakan aliran musik masing-masing, namun mereka masih memiliki toleransi agar tidak terjadi pertikaian. Namun, masih ada juga kelompok in group dan out group yang menimbulkan pertikaian seperti ormas-ormas radikal.
B. Pitirim Sorokin
1. Teori Pitirim Sorokin
Teori Integralistik Budaya Puncak Perkembangan Intelektual Manusia
Dalam teori ini Sorokin memperkenalkan teori siklus. Dia menilai gerak sejarah dengan gaya, irama, dan corak ragam yang kaya itu dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga terjadilah teori siklus. Baginya, gerak sejarah menunjukkan naik turun, pasang surut, dan timbul tenggelam.
Jika kita melihat teori August Comte tentang hukum tiga tahap, Sorokin juga mencetuskan hukum tiga tahap versinya sendiri. Jika August Comte memiliki hukum tiga tahap yang bersifat linier dan tidak mungkin kembali, Sorokin memiliki hukum tiga tahap yang bersifat siklus dan akan ada saatnya sebuah situasi itu kembali.
Sorokin membagi kebudayaan menjadi 3 mentalitas budaya yaitu:
a.       Kebudayaan Ideational.
Dalam kebudayaan ini yang menjadi dasar pemikiran adalah kenyataan yang bersifat nonmaterial, transenden dan tidak dapat ditangkap oleh panca indra. Dalam konsep ini dunia dianggap sebagai ilusi, bersifat sementara, dan merupakan aspek kenyataan yang tidak nyata dan tidak sempurna. Kenyataan perupakan kepercayaan terhadap Tuhan dan nirwana. Inti dari kebudayaan ini ada kepercayaan terhadap Tuhan dan agama. Sistem ini terbagi menjadi dua yaitu ideasional asketik dan ideasional aktif. Ideasional asketik adalah mengurangi kebutuhan dunia agar mudah diserap dengan dunia transenden. Maksudnya adalah manusia tidak terlalu memikirkan masalah keduniawaiannya dan lebih fokus pada dunia transenden atau bisa dibilang lebih fokus dengan Tuhannya. Sedangkan ideasional aktif merupakan pengubahan segala kebutuhan duniawinya agar selaras dengan dunia transenden.
b.      Kebudayaan Sensate.
Kebudayaan ini mengatakan bahwa dasar pemikirannya adalah dunia materil yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia. Kebudayaan ini menyangkal adanya dunia transenden dan hanya terfokus pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Mentalitas ini dibagi menjadi tiga yaitu inderawi aktif, inderawi pasif, dan inderawi sinis.
Inderawi aktif merupakan usaha aktif untuk mengubah dunia fisik guna memenuhi kepuasan dan kesenangan semata. Contohnya adalah berkembangnya teknologi. Inderawi pasif merupakan cara untuk menikmati kesenangan duniawi tanpa memperhatikan tujuan jangka panjangnya. Dan yang terakhir adalah inderawi sini yang merupakan pengerjaan tujuan duniawi dibenarkan oleh rasionalitas idealistik.
c.       Kebudayaan Campuran.
Kebudayaan campuran merupakan perpaduan antara kebudayaan ideational dengan kebudayaan sensate. Yang ditekankan di sini adalah kompromi. Kebudayaan campuran dibagi menjadi dua jenis yaitu kebudayaan idealistis dan kebudayaan ideasional tiruan. Kebudayaan idealistis merupakan perbaduan kebudayaan ideational dan kebudayaan sensate yang logis dan saling berhubungan. Sedangkan kebudayaan ideasional tiruan merupakan perpaduan kebudayaan ideational dan kebudayaan sensate yang saling berlawanan dan tidak terintegrasi secara sistematis namun tetap hidup berdampingan.
Sorokin berpendapat bahwa ketiga tipe diatas dapat berulang dalam bentuk siklus. Dengan kata lain, periode ideasional diikuti oleh suatu bentuk campuran yang diikuti oleh satu periode ideasional baru dan seterusnya. Ini terjadi berulang-ulang sehingga membentuk siklus.
2. Kritik dan Relefansi dengan Keadaan Saat Ini
Relefansi dengan keadaan saat ini menurut saya memang mulai terasa bahwa manusia memiliki kebudayaan yang hanya bersifat material yang terlihat mata saja. Namun ada kalanya memang berubah. Saya cukup sepakat dengan teori yang Sorokin paparkan dan menurut saya itu juga terjadi saat ini.
C. Herbert Spencer
1. Teori Herbert Spencer
Teori Evolusi
Teori evolusi masyarakat milik Spencer merupakan sebagian kecil dari teori evolusi seluruh jagat raya. Teori evolusi ini merupakan teori yang membahas tentang perubahan kecil yang terjadi secara perlahan dan komulatif yang terjadi secara alamiah dan terjadi dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan teori evolusi masyarakat itu sendiri memiliki arti sebagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang disebabkan oleh usaha manusia untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Jika kita melihat kebelakang sejenak tentang August Comte yang memperkenalkan hukum tiga tahap dalam kehidupan manusia yaitu tahap teologi, metafisik, dan positivisme. Dalam paparannya tersebut, Comte mengatakan bahwa masyarakat mempunyai kedudukan yang dominan terhadap pribadi.
Namun Spencer mengatakan lain. Dia mengatakan bahwa pribadi manusaialah yang memiliki andil besar terhadap struktur masyarakat. Dia mengatakan bahwa pribadi merupakan dasar dari struktur sosial. Struktur sosial dibentuk untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Oleh karena itu banyak ahli yang beranggapan bahwa Spancer memiliki sifat yang individualistik. Spencer mengkaji teori evolusi modern secara mendalam. Sehingga pada akhirnya dia menemukan teori organik karena Spencer menyatakan bahwa masyarakat itu bersifat organik. Dia juga menambahkan bahwa perubahan alamiah dari dalam diri akan mempengaruhi struktur yang ada di dalam masyarakat.
Ia mengajarkan bahwa pada dasarnya materi mempunyai struktur serba sama tanpa perbedaan. Materi sederhana itu terbentuk dari sejumlah partikel di mana pada akhirnya saat ada dalam keadaan terkuasai oleh daya gerak dari dalam maka mereka akan menggabung menjadi satu kesatuan. Begitu juga masyarakat. Menurut Spencer, dalam masyarakat terdapat proses. Berawal dari individu menjadi keluarga, keluarga menjadi kelompok, kelompok menjadi desa, desa menjadi kota, kota menjadi Negara, dan Negara menajadi PBB.
Baginya evolusi adalah penyatuan dan pengitegrasian materi ke dalam kesatuan yang lebih besar dan rumit strukturnya. Evolusi berjalan dari arah yang serba sama ke arah yang serba berbeda. Jika ada proses pengitegrasian maka ada pula proses disintegrasi yang akan membuat struktur yang telah dibangun tadi runtuh.
Spencer mengatakan bahwa masyarakat merupakan organisme yang berdiri sendiri dan berevolusi sendiri selepas dari kemauan dan tanggung jawab anggotanya di bawah kuasa satu hukum sebagai pengaturnya. Dalam badan manusia, fungsi penyelarasan dan pemersatuan dilakukan oleh otot urat. Sedangkan dalam badan sosial, fungsi penyelarasan dan pemersatu dilaksanakan oleh sistem pemerintahan. Sama halnya dengan tiap organisme yang menghasilkan bahan kebutuhannya demi pemeliharaannya dan ketahanan badannnya, masyarakat juga mempunyai ekonomi demi kelangsungan dan perkembangannya. Badan masyarakat berevolusi dari keadaan sama di mana semua orang mempunyai fungsi dan kedudukaan yang sama dalam suatu keadaan serba beda, serba rumit dan penuh ragam dalam bentuknya. Sama seperti organisme menjadi terbentuk karena sel-sel homogen bergabung menjadi organ-organ yang berbeda-beda dalam bentuk dan fungsinya, demikian juga orde sosial dibentuk. Hukum evolusi ini yang menuju keadaan serba beda, berlaku bagi setiap makhluk dan setiap benda. Latar belakang dari adanya daya gerak evolusi ini ialah lemahnya semua benda yang serba sama. Oleh karena itu manusia tidak dapat hidup hanya seorang diri saja. Tiap individu didorong dari dalam untuk bergabung dengan individu yang lain karena mereka akan saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Empat tahap dalam proses penggabungan materi menurut Spencer adalah sebagai berikut:
  1. Tahap penggandaan atau pertambahan. Baik tiap individu maupun tiap orde sosial selalu terjadi pertumbuhan atau pertambahan. Spencer pernah berkata, “Pertambahan atau pertumbuhan menonjol menjadi ciri utama yang dimiliki oleh kelompok sosial….” Bagi Spencer, penggandaan atau pertambahan itu pasti terjadi. Misalnya desa menjadi kota atau suku bangsa menjadi bangsa.
  2. Tahap kompleksifikasi. Tahap ini merupakan tahap yang terbentuk akibat terjadinya tahap sebelumnya yaitu tahap penggandaan atau pertambahan. Akibat dari proses penggandaan atau pertambahan itu membuat struktur yang terbentuk menjadi rumit. Maka dari itu akan terbentuk sebuah kopleksifikasi. Coba saja bandingkan desa dengan kota. Desa masih sederhana sedangkan kota sudah sangat kompleks.
  3. Tahap differensiasi dan pembagian. Dalam tahap ini, Spencer berpedapat bahwa baik evolusi badan manusia ataupun evolusi sosial menumbuhkan pembagian kerja. Hal ini mengakibatkan terjadinya pelapisan atau stratifikasi sosial. Tiap individu memiliki kelas sosial dan tugas masing-masing. Bisa dikatakan perbedaan profesi termasuk pada tahap ini. Tidak mungkin satu individu bisa melakukan segalanya sendiri. Mereka akan saling melengkapi satu sama lain.
  4. Tahap pengintegrasian. Akibat dari keberagaman yang memungkinkan untuk terjadinya perpecahan, maka menurut Spencer harus dicegah dengan adanya integrasi. Dengan adanya integrasi, masyarakat akan merasakan kekurangannya dan melakukan kerjasama dengan masyarakat lain untuk saling melengkapi. Namun, baginya integrasi terjadi secara alami. Dengan kata lain, manusia tidak usah melakukan usaha apapun untuk mencapai integrasi. Spencer mencontohkan integrasi itu seperti koordinasi anggota badan manusia yang secara alami terjadi. Oleh karena itu Spencer menolak segala intervensi pemerintah dalam bidang-bidang seperti ekonomi, pendidikan, pekerjaan umum, dan lain sebagainya. Baginya, pemerintahan hanya memiliki tugas untuk mengurus dan mengawasi saja.
Spencer membagi masyarakat ke dalam dua kelompok yang berbeda yaitu masyarakata militant dan masyarakat industry. Kedua masyarakat ini saling bertentangan satu sama lain.
Masyarakat militant merupakan masyarakat yang cenderung agresif. Dipimpin oleh seseorang yang memiliki kekuatan dalam bidang peperangan dan pertempuran. Jadi, di dalam masyarakat militant ketakutan terhadap orang mati didasarkan oleh agama sedangkan ketakutan terhadap orang hidup didasarkan pada politik.
Sedangkan masyarakat industry merupakan masyarakat yang bekerja secara produktif dengan cara damai diatas ekspedisi perang. Menurut Spencer, masyarakat industry adalah masyarakat yang sudah mulai mengalami keterbukaan dan mengakui akan keunggulan masyarakat lain sehingga mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain. Bukan dengan cara perang untuk memenuhi kebutuhan melainkan dengan cara saling melengkapi kekurangan. Tidak mungkin sekelompok masyarakat dapat memproduksi semua kebutuhan hidupnya. Mereka pasti memerlukan kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya. Namun bukan berarti hal ini tidak menimbulkan persaingan. Tetap ada persaingan dalam kelompok ini. Siapa yang ahli dia akan bertahan dan siapa yang tidak memiliki keahlian dia akan menjadi budak atau buruh. Seiring berjalannya waktu industrialisasi akan menghapuskan peperangan dan kekerasan di muka bumi. Yang ada hanyalah persaingan intelektual dan keterampilan. Namun, dengan munculnya masyarakat industrialisasi maka manusia tidak akan berminat lagi pada agama. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan manusia mulai sibuk untuk melakukan produksi demi pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Perlu disadari bahwa masyarakat industry perupakan pembebasan manusia dari agama dan Negara. Kerjasama antar individu yang dimaksudkan hanya untuk melengkapi kebutuhan dan menutupi kekurangan individu. Oleh karena itu tiap individu memerlukan perkumpulan atau badan kerjasama yang sering disebut dengan masyarakat atau Negara.
2. Kritik dan Relefansi dengan Keadaan Saat Ini
Kritik untuk teori evolusi Spencer. Dalam teori evolusinya, Spencer mengatakan bahwa dia menentang jika pemerintah ikut campur dalam urusan masyarakat terutama urusan ekonomi. Baginya pemerintah hanya sebagai pengawas saja. Namun menurut saya ada baiknya jika pemerintah ikut campur dalam mengolah dan mengambil kebijakan dalam perekonomian masyarakat. Bagaimanapun juga pemerintah adalah masyarakat itu sendiri. Jadi dia juga memiliki hak untuk ikut campur dalam masalah-masalah yang ada.
Relevansi dengan keadaan saat ini. Saya cukup setuju dengan ucapan Spencer yang menyatakan bahwa manusia akan melupakan agamanya jika industrialisasi mulai masuk dalam hidupnya. Hal itu disebabkan dengan adanya industrialisasi, persaingan yang terjadi adalah persaingan intelektual dan keahlian di mana setiap individu harus memilikinya agar mereka berada di posisi atas dan dapat bertahan. Oleh sebab itu mereka berlompa untuk memperkaya keahlian mereka. Mereka tidak memikirkan lahi bahwa pada dasarnya Tuhan telah menggariskan rejeki, jodoh dan kematian padanya. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara bertahan hidup dengan jalan satu-satunya yaitu memperkaya ilmu dan keahlian mereka.
Untuk masalah evolusinya sendiri yang dimisalkan denga organ tubuh manusia, menurut saya ya itu yang terjadi saat ini. Memang pada dasarnya kesamaan yang akhirnya bersatu dan menimbulkan perbedaan itulah yang membuat manusia saling membutuhkan satu dengan yang lain. Mereka saling menutupi kekeurangan. Misalnya saja A adalah pabik bahan pangan dan B adalah maubel. Untuk memenuhi kebutuhan dan mempercantik rumahnya, A membeli perabotan di B. Sedangkan untuk bertahan hidup, B membeli bahan makanan pokok ke A. mereka saling melengkapi satu sama lain. Mungkin contoh ini terlalu sederhana. Memang pada dasarnya di masyarakat belum tentu sesimple itu karena dengan  adanya perbedaan ini pula akan menimbulkan  kelas sosial yang bisa saja menjadi konflik.
DAFTAR PUSTAKA
George Ritzer & Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 1. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
K.J. Veeger, M.A. 1984. Realitas Sosial. Manad